Marketing …

Hello ….
Mengutip kata – kata si Tikabanget – “BLOG ini sudah jamuran dan bulukan”
Maka inilah postingan saya yang pertama di taon Twenty Ten ini.

Cerita diawali dari target saya yang harus LULUS S2 di taon 2010 ini, nah karena tesis yang saya ambil berhubungan dengan Marketing, maka mulailah saya mengobrak – abrik ulang pemahaman saya tentang marketing, dari mulai eBook, buku segede silangan Gajah dan Gaban, sampe diskusi kesana dan kemari saya jalani semua.

Nah akhirnya saya mendapatkan beberapa ne pemahaman basic tentang marketing yang cukup mencengangkan ( lebay mode ).
Beberapa pemahaman tentang basic marketing yang sering dilupakan dan bahkan dicampur adukan sehingga akhirnya jadi membingungkan dan bias.
Nah ini saya coba berbagi deh , atau setidak – tidak nya kl memang ternyata udah pada banyak yang lebih tau, tulisan ini bisa jadi catatan buat saya sendiri he he he he

Marketing itu beda dengan Selling ( jualan ) dan beda juga dengan Public Relation …
Marketing itu ada jauh sebelum produk diciptakan, atau kalau produknya sudah terlanjur ada, ya tugas marketing untuk memahami kebutuhan dan keinginan dari pembeli, lalu mencari cara supaya produk itu cocok dengan kebutuhan dan keinginan pembeli.

Ternyata kebutuhan dan keinginan itu berbeda ( needs and want ), tugas Marketing adalah mempengaruhi keinginan , lebih hebat lagi kalau bisa menciptakan kebutuhan atau keinginan ….
Tapi biasanya kebutuhan itu ada sebelum proses marketing, jadi belajarlah banyak cara untuk mempengaruhi keinginan supaya anda bisa jadi Marketer handal .

Brand awareness dan brand recognition
Ada penjelasan sederhana nya, kl misalkan konsumen ditanya ne
“Bapak tau kondom ?” dan si bapak menjawab ” Tau mas, DUREX kan”
Nah DUREX sudah mencapai Brand Awareness, tapi kalau misalkan yang kita maksud itu merek SUTRA dan kita harus mengarahkan si bapak
“Itu pak, yang namanya mirip nama jenis kain” dan si bapak bisa menjawab, maka Brand Recognition sudah tercapai ..

Tapi kalau si bapak menjawab ‘ owww SARUNG ya mas , maka semua usaha Branding itu sudahlah pasti GAGAL …

Nah apa yang saya sampaikan diatas semoga bermanfaat bagi teman – teman pengusaha yang mulai membangun proses marketing bagi perusahaan atau produknya.
Buat teman – teman yang sudah membayar kunsultan seharga ratusan juta untuk pencapaian “brand awareness” dan teman – teman itu ndak tau batasannya sampe mana, bahkan mungkin konsultannya gagal menjelaskan.

Semoga tulisan ini bermanfaat

Pembelajaran bisnis dari Microsoft yang selalu “terlambat”

Pada rutinitas pagi sebelum ngantor dan setelah “nongkrong” , saya menjelajah tumpukan berita “on line” yang saya kelola lewat RSS di portable Mac saya ….

Berita yang cukup menarik adalah Microsoft akhirnya mengumumkan “counter” nya terhadap Google yang beberapa minggu lalu menghangatkan persaingan dengan mengumumkan pengembangan dari Chrome Operating System …
Intinya adalah satu lagi serangan langsung ke bisnis inti dari Microsoft yaitu Windows Operating system beserta dengan perangkat aplikasi kantor nya ( Word, Excel, Outlook, dkk )

Bahan yang menarik adalah usaha “counter” dari Microsoft tersebut berupa serangkaian “Suport” untuk produk Office nya, yang kini dibawa online atau berbasis web …

Gampangnya mereka menawarkan :

– Document yang bisa diakses dari dan dimana saja selama ada koneksi ke internet.
– Ada fitur “kolaborasi” yang memungkinkan document bisa diedit bersama .
– Document bisa diakses dari perangkat mobille macem smartphone , laptop, atau netbook.

dan masih seperti biasa, sesuatu yang “khas” Microsoft masih muncul dibelakangnya : berbagai macam struktur harga yang membingungkan untuk berbagai macam layanan yang harusnya menjadi usaha “counter” tersebut ..

— Menarik ?? – mungkin , bagi saya semua ini terkesan terlambat dan basi …

Semua fitur tersebut sudah ada pada layanan Google Document sejak beberapa tahun yang lalu, dan GRATIS …

Aplikasi kantor besutan Apple – iWork pun sudah menawarkan hal yang sama sejak 2008 dengan harga yang lebih murah dari Microsoft Office – hanya separuh nya – dengan kualitas yang sedikit lebih baik ..

Bahkan Aplikasi kantor open source seperti Neo Office dan Open Office yang dikembangkan secara swadaya dan benar – benar GRATIS pun sudah memiliki fitur ini dari beberapa tahun yang lalu , 2007 pertengahan kalau saya tidak salah … CMIIW

— Apa yang terjadi ??

Microsoft sebagai sebuah raksasa di bidang teknologi , yang pernah dan saya yakin masih menguasai pasar , menjadi terkesan sangat lambat ….
Lambat dalam berinovasi, lambat dalam membaca dan merespon perubahan , kebutuhan serta perkembangan pasar, dan terkesan semakin tidak jelas mau kemana arah bisnis dan pengembangan produk mereka ..
( dalam hal ini maksud saya pada produk OS Windows dan Aplikasi Office )

Apakah benar bila diumpamakan sebagai individu, Microsoft sudah mulai tua, orang tua dengan keberhasilan yang spektakuler dan dana yang berlimpah ….
Gendut dan tidak lincah karena terlalu nyaman dengan kesuksesannya …

— Pembelajaran bisnis apakah yang bisa kita dapatkan?

Pada era dimana batas – batas semakin menipis, Bisnis Unit dituntut untuk selalu kreatif, peka dan responsif terhadap perubahan dan kebutuhan pasar .
Unit Bisnis atau perusahaan dituntut untuk semakin memperhatikan aspek KREATIVITAS dan INOVASI, tidak melulu hanya pada produk, tapi lebih secara keseluruhan baik pada sisi manajerial, proses produksi, marketing, distribusi … semuanya …

INOVASI harus segera dimunculkan, dan dikelola bila sebuah perusahaan tetap mau bertahan dalam kondisi persaingan dengan batasan yang semakin kabur seperti saat ini …

INOVASI harus segera menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari EFEKTIFITAS dan EFISIENSI.

Kekuatan Modal sudah terbukti bukan lagi menjadi faktor utama, networking pun demikian INOVASI yang mendorong Responsivitas terhadap perubahan menjadi penting juga untuk diperhatikan …

Saya teringat sebuah cerita tentang penjual mie ayam dan web designer

Ada seorang penjual Mie Ayam yang sudah sangat terkenal di Jogja, sebut saja Mie Ayam Pak Tapir, konsumennya sangat banyak, sebagian bahkan ada yang termasuk kategori die hard fans, lalu ada seorang pelanggan Mie Ayam Pak Tapir, sebut saja namanya Meol , dia penggemar berat mie ayam dan ayam – ayam yang lain, dia berprofesi sebagai web designer dan web developer, internet base lah kerjaan nya..

Suatu hari si Meol yang gemar berpetualang ini menemukan ada mie ayam di daerah Bantul, daerah pinggiran kota Jogja, ternyata lebih enak dari Mie Ayam Pak Tapir, tetapi belum ter ekspose dan terkelola dengan baik …
Lalu si Meol menawarkan kerjasama dengan menjadi pemodal untuk Mie Ayam Bantul ini, oleh Meol dipasarkan Mie Ayam Bantul ini lewat Situs Web Kuliner yang dibangunnya, di garap promosinya dan ….

JRENGGG …. Mie Ayam Bantul kampung itu berubah drastis “Go” internasional karena pemasaran berbasis web …
Pasar yang Pak Tapir ndak akan pernah bisa jangkau dengan managementnya …
Pak Tapir masih belum sadar dan bahkan wangsitpun belum dapat tentang ancaman ini …
Perlahan beberapa pelanggan Pak Tapir pun mulai ada yang membaca Situs Web Kuliner milik Meol dan mencoba Mie Ayam Bantul … dan memang lebih enak dari Mie Ayam Pak Tapir …

Perlahan Mie Ayam Pak Tapir mulai menurun dan kehilangan pelanggan, tanpa Pak Tapir penah tau bahwa semua berawal dari seorang Web Developer yang ironisnya justru pelanggannya sendiri …

Nilai Moralnya :

– Penjual mie ayam dan web designer …. hmm sekarangpun bisa menjadi rival bisnis …
– Bahkan pelanggan kita sendiri bisa menjadi peluru kematian kita ….
– Sekuat apapun modal dan brand merek “Pak Tapir” kalau dia tidak berinovasi, dalam hitungan bulan, usaha puluhan tahun yang dia bangun akan sia – sia …

Jadi akankah kita tetap enggan berinovasi ??
Masih sombong dan percaya dengan kekuatan modal, relasi, jaringan , atau bahkan warisan ??

Pada tulisan berikutnya akan saya bahas bagaimana mengelola inovasi di dalam perusahaan .

Basic Marketing untuk Small Business

Haluw, weekend ini saya coba manfaatkan untuk menulis sesuatu yang memang menjadi satelite di seputar hidup saya, atau di core competencies yang saya punya di bidang IT – Apple – Marketing and Blues he he he …

Saat ini saya berada pada fase untuk membangun kembali sebuah Bisnis Kecil yang saya cita – citakan akan menjadi besar kembali. Salah satu sisi yang cukup penting dan menjadi perhatian adalah sisi marketing – pemasaran, dan kebetulan saya juga sedang belajar Marketing di MM UGM
Karena bisnis yang sedang saya rintis ini dapat dikategorikan sebagai Bisnis Kecil – Small Busines, maka sudah tentu strategi marketing yang harus saya terapkan adalah strategi yang memang diperuntukan bagi SmallBizz.

Setalah browsing ke banyak tempat, dan membuka catatan – catatan kuliah saya, akhir nya saya memperoleh berbagai bahan yang bisa menjadi dasar untuk menyusun strategi marketing yang akan saya gunakan untuk bisnis kecil yang sedang saya bangun …
Nah disini saya akan coba berbagi,

Inti dari marketing sebenarnya adalah
“bagaimana memahami kebutuhan konsumen atau pasar, dan membangun sebuah rencana seputar pemenhan terhadap kebutuhan tersebut” – ringkasan dari berbagi sumber dan pengalaman.

Bagi bisnis kecil, impiannya adalah menjadi besar dan cara yang paling efektif untuk menjadi besar adalah dengan berfokus pada apa yang disebut sebagai “organic growth” – pertumbuhan yang dicapai dengan berfokus pada peningkatan produksi dan penjualan.

Ada beberapa cara yang bisa ditempuh :
1. mendapatkan lebih banyak konsumen
2. mengejar setiap konsumen untuk membeli lebih banyakproduk
3. mengejar konsumen untuk membeli produk yang lebih mahal lagi
4. mengejar konsumen untuk membeli produk yang lebih profitable

Semuanya akan meningkatkan pendapatan dan keuntungan kita, tetapi akan lebih baik bila kita fokus pada pilihan pertama, karena dengan menambahkan jumlah konsumen ataupun calon konsumen, kita meningkatkan customer “base” kita dan secara otomatis pula keuntungan / profit akan datang dari “base” yang lebih besar.

Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah :
“Bagaimana kita menggunakan marketing untuk mendapatkan lebih banyak client atau pelanggan?”

Kita bisa melakukan :
1. research sederhana dan menciptakan rencana marketing yg strategis
2. memperkenalkan produk kita sampai pada konsumen yg sebelumnya tidak menarik untuk kita
3. memberikan harga yang kompetitif pada produk dan service yg kita berikan
4. fokus pada solution marketing ( pemberian solusi ) bukan pada hard selling

Selanjutnya penentuan Target Pasar yang pas untuk Bisnis Kecil :

pilihlah pasar yang memang benar – benar potensial dan mampu kita layani,
ex.
saat ini kapasitas saya untuk memberikan pelayanan jual dan purna jual yang baik, pada sekolah dengan kapasitas pemesanan 10 unit per bulan. Jangan kita memaksakan mengejar pasar dengan kapasitas 500 unit per bulan, kecuali bila memang kita benar – benar yakin dan mampu untuk menangani pasar tersebut.
Dampak bila kita memaksakan, pelayanan yang akan kita berikan akan berkurang kualitasnya dan untuk jangka panjang ini tidak akan baik.
Jangan serakah dan berpikirlah jangka panjang, ini inti dari pemanfaatan sebuah strategi.
Perlu dipikirakan juga untuk mengutamakan pasar yang mampu meberikan hasil atau pemesanan yang berkesinambungan.

Hal yang sangat penting berikutnya adalah masalah dana – budget marketing:

Small business sangat berbeda dengan Big Business, budget marketing dari small business kadang sangat kecil atau bahkan tidak ada … Tapi bukan berarti bahwa tidak bisa sama sekali melakukan marketing … Lalu bagimana ? Apa yang harus dilakukan

Kunci utamanya terletak bukan pada “seberapa besar dana – budget yang disediakan, tetapi lebih kepada seberapa efektif kita memanfaatkan budget atau peluang yang ada untuk memasarkan atau melakukan kegiatan marketing”

1. kita bisa melakukan proses marketing bersamaan dengan proses penjualan.
2. banyak media Gratis yang bisa kita gunakan untuk marketing, Facebook misalnya
3. berikan palayanan maksimal kepada setiap client, konsumen yang puas akan menjadi marketer kita
4. mulai memandang bahwa konsumen bukan hanya sebagi sumber profit, tetapi alat marketing juga

Nah bila kita sudah memahami dasar – dasarnya, saya rasa akan cukup mudah untuk melangkah.
Tulisan ini juga bisa menjadi marketing untuk saya pribadi misalnya … he he he …

Mari kita berkembang dan maju bersama, bila tertarik mari kita berdiskusi,
feel free untuk menghubingi saya via email di

Yudhaworld@gmail.com
Ym – Yudhaworld@yahoo.com
Semoga tulisan ini membawa pencerahan.

Next saya akan mencoba menyelesaikan TESIS saya yang terbengkalai … ha ha ha dan menulis hubungan antara Marketing – Apple – IT dan Blues Music.

Salam.

Belajar dari Google . . .

Baru – baru ini sebuah artikel menarik diterbitkan Businessweek. Artikel itu membahas , dan membuat semacam review terhadap sebuah bukku berjudul “What Would Google Do ?” yang saat ini cukup laris manis terjual dan menjadi best seller.
Pada intinya adalah buku tersebut mengulas , strategi – strategi apakah yang digunakan oleh Google, yang bisa dipelajari dan bisa dicoba diimplementasikan pada industri – industri lain, sebagai sebuah cara untuk meningkatkan daya tahan menghadapi krisis yang melanda saat ini – dalam tulisan ini digunakan industri otomotif America yang saat ini menerima pukulan paling berat dari krisis sebagi contoh case nya.
Dari ulasan yang cukup panjang tersebut ada beberapa point yang cukup menarik yang saya coba rangkum, dimana menurut pendapat saya point – point tersebut cukup universal dan bisa diterapkan dalam banyak jenis industri dan bisnis, bahkan tidak menutup kemungkinan dalam pengembangan pribadi kita. Oke, kita mulai saja.

MANAGE ABUNDANCE, NOT SCARCITY
Businesses like airlines and Broadway theaters profit from controlling the scarcity of their product. But the Internet kills scarcity. Google understands how to benefit from abundance. The more content for it to organize and the more sites where it can place ads, the better. Amazon has a similar approach, offering customers more books and CDs than could ever fit in one physical store.
Cukup menarik, intinya adalah bagaimana kita bisa semakin memperkaya content atau “kandungan” dalam bisnis kita. Ex. Sebuah toko komputer, mereka dapat terus menambahkan katalog produk yang mereka miliki, bila sebelumnya hanya 5 merek, bisa ditambahkan menjadi 10 merek , sebelumnya hanya 2 jenis layanan bisa ditambahkan menjadi 5 jenis layanan. Sebagai individu kita juga dapat memperkaya content atau kandungan nilai yang kita kuasai. Tidak hanya seorang sarjana yang paham seluk beluk marketing, wawasan yang luas, menguasai berbagai macam bahasa, komputer basic, yang temtunya semua masih berhubungan dengan keahlian utama. Akan tetapi yang terpenting adalah untuk tetep memperkuat core competencies yang telah dimiliki dan fokus pada tujuan. Karena jangan sampai proses pengayaan ini justru membuat bias. Penting dan wajib pula proses “pengayaan” ini tetap sejalur dengan core competance yang dimiliki. Google tetap konsisten memberikan layanan semakin baik pada core bisnisnya “search engine”, disamping terus menambahkan kelebihan – kelebihan yang lain untuk memperkuat core competance nya, seperti Chrome Brwoser, Google Docs, dsb yang semua masih terhubung dengan core competance dari Google itu sendiri.

MAKE MISTAKES WELL
Mistakes can be valuable, if you can learn from them. Google releases most products in “beta,” meaning they’re not quite finished. Then it incorporates feedback to come up with improvements. Procter & Gamble CEO A.G. Lafley says he wants to keep the company’s rate of failure with new product launches at about 40% to 50%. He thinks it encourages employees to think ambitiously and take risks.
Belajar dari kesalahan. “Kesalahan adalah guru yang terbaik”. Selanjutnya adalah bagaimana kita mengelola resiko yang timbul akibat kesalahan tersebut, disitulah kunci utamanya. Wright bersaudara – penemu pesawat terbang, tau bahwa mereka melakukan percobaan untuk belajar dari kesalahan dengan resiko yang sangat tinggi, mereka berusaha mengelola resiko seminimal mungkin, dengan melakukan percobaan penerbangan di tanah yang lunak , berumput, serta datar, sehingga bila jatuh dapat mengurangi resiko yang ada. Demikian juga dalam berbisnis, ada baiknya untuk selalu mengembangkan diri dan belajar dari kesalahan yang ada. Jangan takut untuk salah.

GIVE UP CONTROL
Companies need to give up control to outsiders to reap the benefits of their input. Google does this through beta launches and other user feedback. Dell tried a similar tack in 2007, after a flood of criticism over poor customer service. CEO Michael Dell launched a Web site to get customers’ ideas, and Dell executives reached out online to bloggers. The openness led to a customer service overhaul; the negative buzz declined.
Berbagilah kontrol terhadat orang luar, terutama konsumen. Merekalah yang sebenarnya paling tau apa produk seperti apa yang diinginkan dari perusahaan, bukan team R&D perusahaan. Tugas R&D adalah membuat perusahaan mampu mewujudkan keinginan konsumen dan menentukan langkah untuk mengambil profit dari kepuasan konsumen. Sama hal nya dengan individu, cobalah untuk menghargai kontrol dari luar, jangan terlalu egois dan individu, karena kadang kita sendiri tidak tau apa yang terbaik untuk kita.

GET OUT OF THE WAY
Google doesn’t tell people how to use its search engine or what to look for. It lets people take control of its technology. Craig Newmark, founder of Craigslist, has done similar things with his Web site. He lets people use the classifieds service in any way they can imagine. Many service providers—in telecom, cable, media, education—could do well to make something useful and then get out of the way

Biarlah konsumen yang menentukan akan dipakai menjadi apakah produk kita. Bukan kita lagi yang harus membantu konsumen untuk menggunakan produk. Apple tidak akan pernah membayangkan bahwa aplikasi yang muncul dengan menggunakan teknologi acelerometer di iPHONE akan menjadi seperti sekarang. Biarlah konsumen yang berkarya, dan jangan lupa, bagilah keuntungan dengan mereka yang telah menyumbangkan ide dan karyanya, karena apapun yang terjadi hubungan saling menguntungkan akan bertahan baik dan lama. Jangan terlalu mendikte bagaimana orang harus memperlakukan, atau bersikap terhadap kita. Cobalah memahami dan mengerti apa yang mereka mau terhadap kita, selanjutnya akan muncul ide – ide yang kadang belum pernah kita pikirkan sama sekali.

LOW PRICES ARE GOOD (FREE IS BETTER)
Google doesn’t charge people to use its search engine. In fact, the fastest-growing Net companies—from Google and Skype to Amazon and eBay—don’t charge what the market will bear. They charge as little as they can bear. With networks of people, the more users you get, the stronger your competitive position. Scale can trump short-term profits.
Berikanlah harga yang terbaik, bukan berati menjual diri. Membahagiakan konsumen dengan harga yang pantas dan murah, tanpa mengorbankan kualitas. Konsumen yang puas akan menjadi loyal konsumen dan akan menjadi papan iklan berjalan. Berpikir untuk keuntungan jangka panjang. Perhitungan mutlak ala Paman Gober dan Hagemaru yang semuanya berbasis pada Cost dan Benefit, saat ini sudah tidak terlalu relevant. Semakin banyak kita memberi, akan semakin banyak kita mendapatkan. Semakin kita berhitung, maka kita akan semakin dihitung.

DON’T BE EVIL
Google’s most famous rule may seem the height of hubris. But founders Larry Page and Sergey Brin say the rule really exists to allow employees to challenge managers on decisions to make sure they are true to the company’s mission. It provides a simple guiding principle for everyone. If only that rule had been etched over every door on Wall Street, perhaps the U.S. wouldn’t be in the mess it’s in now.
Inilah yang paling saya suka dari Google, semboyan ini jauh lebih saya suka dibandingkan Think Different nya Apple. Tantangan terbesar di Indonesia saat ini adalah , semua perusahaan semain mengarah untuk menjadi “All Evil”, dan statistik serta sejarah telah memuktikan bahwa dalam jangka panjang ini tidak baik.

Okew sekian dulu tulisan kali ini, ditulis siang hari sambil memikirkan menu apa yah untuk makan siang kali ini .. Ada ide ?

Tulisan serupa dapat dilihat juga di BLOG saya di www.Yudhaworld.Wordpres.com

Rahasia Sukses … ( mungkin … )

Sore hari ini sambil nungguin temen – temen yang mau datang membawa pinjaman buku, pikiran saya melayang tentang sebuah banner yang terpampang di apple.com yang menyebutkan bahwa sampai saat ini lebih dari 500 juta aplikasi untuk iPhone dan iPOD Touch telah ter download – jual dari iTunes Stores – sebuah toko online fenomenal milik Apple Inc yang awalnya hanya menjual musik lagu dan album dalam format digital.

Pikiran saya kembali melayang dan mencoba mengetikan beberapa kata ke dalam Google untuk mencoba mencari informasi lebih jauh tentang fenomena ini, dan saya menemukan artikel yang cukup menarik di Businessweek.com berjudul “The Apple Apps Monster” yang menceritakan betapa ide penjualan aplikasi untuk perangkat “Smartphone” oleh Apple ini benar – benar sebuah langkah fenomenal yang sulit untuk ditandingi oleh raksasa – raksasa lain yang bergerak dalam industri sejenis seperti Nokia, Sonny Ericcson dan RIM dengan Blackberry nya yang saat ini sedang naik daun di Indonesia.
Microsoft yang dengan bangganya berkata bahwa lebih baik memiliki Operating System ( windows Mobille ) yang terpasang di hampir 40% dari marketshare dibandingkan harus memproduksi hardware dan software secara bersamaan tetapi hanya menguasai kurang dari 8% marketshare pun saat ini hanya bisa diam melihat fenomena Apple dengan iTunes App Store nya …

Tetapi pertanyaan yang mendasar yang muncul di benak saya adalah :

APAKAH SEMUA INI SUDAH DIRENCANAKAN DARI AWAL ?

Bila memang iya, saya yakin bahwa orang yang bertanggung jawab dibaliknya adalah seorang Visioner dengan strategi dan kemampuan berpikir Super ..

Pertanyaan saya lalu menggelanyut lebih jauh … Apakah Steve Jobs merencanakan ini semua … Apakah Bill Gates pun demikian ? Bagaimana dengan Google ? Facebook ? dan Apakah juga Jimmy Hendrix , Kurt Cobain pernah merencanakan penemuan mereka yang fenomenal di bidang nya ?
Apakah semua pendiri dan pencipta ini memang merencanakan untuk menjadi besar seperti sekarang ini ?

dan saya yakin … Jawabannya adalah TIDAK …..

So bagaimana ini semua bisa terjadi ? Bagaimana ini semua bisa ada ? Apakah saya bisa seperti mereka ?

Peertanyaan demi pertanyaan masih terus berlanjut.
Akhirnya saya coba buat mencari jawaban dengan browsing sana dan sini … Melihat wanita yang berlalu lalang dengan indahnya di Plaza ini dan akhirnya ada sedikit rangkuman yang bisa saya tuturkan, yang mungkin bisa menjadi pedoman bagi saya dan mungkin berguna juga buat yang lain bila ingin seperti Om Steve dan kawan – kawan tersebut.

MULAI DENGAN YANG SEDERHANA DAN KITA SUKA :
Dari semua kisah sukses yang saya baca, semua diawali dari sesuatu yang mereka suka, Om Bil suka sekali dan terpesona dengan yang namanya Pemrograman dan Komputer … Google Guys keranjingan dengan Search Engine yang pada saat itu dilihat sebagai sesuatu yang tidak ada nilai jualnya.
Om Steve terobsesi menggabungkan keindahan design dan teknologi dalam sebuah alat.. Jimi Hendrix dengan kegelisahannya dan Cobain dengan semangat anti kemapanannya….
Semua diawali dari rasa suka, rasa cinta akan sebuah ide dan gagasan .. Sayangnya masih banyak orang Indonesia mengawali segala sesuatu dengan motivasi serakah … mendapatkan hasil yang berlimpah, kekayaan , kemasyuran, jabatan , ketenaran dsb …

FOKUS DAN SETIA :
Walaupun awalnya sayang, cinta dan suka tetapi pada perjalanannya pasti akan menemui halangan , bosan , malas godaan untuk berpindah pada hal lain yang sesaat terlihat lebih menarik dan menguntungkan …

SELALU BERPIKIR KREATIF DAN IMAJINATIF :
Berpikir imajinatif dan kreatif membantu kita selalu meng Upgread produk yang kita cintai atau hasil karya yang kita cintai yang telah kita perjuangkan tumbuh dan berkembang. Penuh dengan inovasi – inovasi baru yang pada akhirnya membuatnya selalu menarik dan unggul.

KONSISTEN DAN LAKUKAN SECARA TERUS MENERUS :
Penting untuk melakuakn perbaikan , inovasi dan pengembangan secara konsisten dan kontinu – berkelanjutan.

Kira – kira itu saja se modalnya, sisanya adalah faktor nasib dan keberuntungan. Tetapi saya yakin, bahwa dengan usaha yang baik dan tulus pasti akan mendatangkan kesempatan yang baik dan tulus juga.
Nah sayangnya saya sendiri menyadari bahwa sikap – sikap diatas memang bukan sikap yang ada dalam genetis bangsa kita, jadi mungkin sudah saat nya kita mulai merenung, berbenah dan berbuat …..

ditulis menjelang malam yang lapar
di Plaza yang besar di Jogja
Ipank melengking dengan gaharnya …

Tulisan ini saya terbitkan terlebih dahulu di FaceBook saya , add saya juga kalau berkenan di Yudhaworld@yahoo.com

Antara Soekarno, Soeharto dan Maia Ahmad..

Waktu hiruk dan piku nya sakit dan berakhir dengan wafatnya Soeharto kemaren, satu satunya berita heboh lain kl ‘ndak salah soal Maia Ahmad dan si Ahmad Dani …
Entah kenapa tiba – tiba kepikiran saja…

Soekarno, Soeharto, dan Maia Ahmad…

Contoh dari manusia – manusia Indonesia, yang brilian dengan prestasi luar biasa .. dalam bidang mereka sendiri – sendiri …

Karya – karya mereka luar biasa …

Soekarno …
Kemerdekaan yang kita rasakan saat ini bisa dibilang karyanya.. yang ditunjang dengan pengorbanan banyak pejuang kemerdekaan kita .. ( masih ada ngk ya yang inget mereka )

Soeharto …
Dasar dari Indonesia yang modern dan “cukup stabil” dipetakan oleh dirinya…

Maia Ahmad
Ratu …. duo original, konsep cerdas, musik asik dan tema menggelitik.. Membuat saya yang koleksi TTM dan memang berpredikat Buaya Darat akhirnya mendapatkan soundtrack ha ha ha..

Hanya saja saya melihat 1 pola yang sama dari orang – orang hebat diatas …

DIAWALI PRESTASI LUAR BIASA …..

DIAKHIRI DENGAN MASALAH YANG LUAR BIASA …

Wow…. kok bisa ya ????

Setalah saya pikir – pikir sambil saya liat – liat , akhirnya saya menemukan ada sedikit kesamaan diantara mereka bertiga , yaitu sama – sama tidak bisa menahan diri dan tidak tau kapan harus berhenti …..

Ini dari kaca mata saya lo , kaca mata saya yang hanya ingin belajar ….
Ironisnya kok yang Genius – Genius negri ini saja seperti itu, gimana kita, saya yang bodoh ini bakalan seperti apa yah…

Yang pasti ….. semoga saya bisa belajar dan selalu rendah hati dan tau kapan harus berhenti…

Ternyata Huruf ‘P’ setara kedudukannya dengan ‘A’

“Life begin with letter ‘P’ ” …….

Pernah denger jargon ‘ntu kagak ?

Bahasa teknisnya Hidup itu diawali dari adanya Purpose or Tujuan , so apapun itu selalu diawali dari adanya sebuah Tujuan….Apapun itu..

Nah yang menjadi permasalahan kadang sebagian orang ngk jelas dan tidak tau apa tujuannya, entah dari yang paling sederhana .. tujuan dia buat hidup …. Nah kl tidak ada tujuan jelas semua bakalan kacau balauwww…

So Huruf “P”… Purpose memang harus ada di awal dari setiap kehidupan …
betapa besar peranan “P” dalam kesuksesan hidup seseorang atau perusahaan, sudah banyak dibahas di berbagai macam buku.

Kemaren iseng – iseng saya sempat mencoba meng utak – atik berbagai logika , and benar saja bahwa huruf “p” ini memang mengawali banyak hal…..

Bukankan hidup atau kehidupan juga diawali dari benda dengan awalan ‘P’ ? ( masih perlukan saya menyebut Penis ?? )
dan dalam bahasa Indonesiapun pemahaman ini masih masuk… Lets see..

P – Purpose – Penis
T – Tujuan – Titit

So kayanya huruf “P” sebagai awal lebih punya alasan yang kuat dibandingkan huruf “A” bila mengingat fungsinya…
Soalnya ngk ada alesan yang jelas kan kenapa huruf “A” ada di list awal huruf – huruf abjad, so kayanya saya lebih setuju huruf P deh……

Hehe