About Yudha Sancaka

It’s just like another notes with the twits

Marketing – part 2 – Marketing – Selling – Branding – Advertising

Ok menyambung tulisan saya terdahulu tentang Marketing, maka saya memutus kan menulis sambungan nya karena banyak nya request – krik .. krik ..

Kali ini saya akan mencoba membahas dari yg paling basic tentang pemahaman marketing itu sendiri.
Pemahaman dasar inilah yg sampai sekarang saya jadikan pedoman  menghadapi banyak nya carut marut teori marketing, selling, branding, social media marketing bla … bla … bla ….

Kata kunci nya adalah :

Marketing adalah proses “delivering value”  dari pihak produsen ke pihak konsumen …. STOP sampai disini.

Nah urusan setelah “value” itu sampai ke konsumen dan konsumen mau membayar untuk mendapatkan atau menikmati “value” tersebut , itu disebut proses selling – penjualan.

Nah tugas marketer atau pemasar adalah merancang sebuah strategi yang memungkinkan supaya “value” yang diyakini oleh produsen tersebut benar – benar bisa sampai kepada konsumen dan konsumen juga ikut yakin ..

Nah kita udah jauh ngemeng samape sini, saya lupa ngejelasin apa itu “value” .
Value kalau diterjemahkan secara preman ke bahasa Indo bisa diartikan sebagai “nilai” , nah nilai yg dimaksud mungkin lebih kepada “keunggulan” – faktor pembeda yg membuat sebuah produk layak dipilih, beda dari produk sejenis yg lain.
contoh nya :
Sama – sama komputer Apple dan Acer misalnya mereka menawarkan value yang berbeda.  Apple – Design yg cool, kemudahan penggunaan , prestige – sementara Acer lebih ke harga yang ekonomis, fitur lengkap, dan ada dimana – mana.

Balik lagi ke proses Marketing, pihak pemasar atau marketer atau manusia yang bertanggung jawab merencanakan strategi pemasaran harus paham bener value dari produk nya, jangan sampai salah atau cuma sepotong – potong saja.
Misalkan strategi marketing utk Acer, yg tersampaikan hanya value ” ada dimana – mana ” , akan terasa ampang dan galau karena septic tank juga ada dimana – mana , value nya sama ….

Nah pemahaman dasar ini penting mengingat ada beberapa keluhan dari teman – teman di marketing agency yang ketika berhadapan denga client dan mempresentasikan strategi karya mereka, si client selalu menanyakan berapa penjualan yang bisa saya dapat dari proses marketing ini.
OK memang dalam bisnis semua pada akhirnya balik ke “angka” tetapi perlu dipahami bahwa proses marketing tidak bisa dikalkulasikan dengan angka penjualan secara eksak, ada metode untuk itu tetapi tidak bisa dicampur adukan. Justru ketika seorang pemasar , memaparkan strategi marketing nya dan bisa dengan pasti menyimpulkan angka penjualan yang ditargetkan, itu justru perlu dicermati benar – benar.

Nah kondisi makin parah karena di Indonesia, disini telah terjadi proses pencampur adukan antara marketing dan selling, lowongan kerja marketing buntut – buntutnya disuruh selling …. itu beda.

Nah dari pemahaman dasar ini kita tidak akan terjebak dengan carut marutnya Marketing – Selling – Branding – Advertising  …

Tapi dari pengalaman saya , Marketer yang baik pasti jago jualan alias selling juga, sementara selles yang baik belum tentu bisa jadi Marketing Strategist yang baik.

CEO – CEO legendaris di dunia ini banyak yg berawal dari devisi marketing dan jago meramu strategi marketing, Jack Welch nya GM dan tentu saja the one and only Steve Jobs of Apple.

Yap sementara ini dahulu, semoga bermanfaat

Marketing …

Hello ….
Mengutip kata – kata si Tikabanget – “BLOG ini sudah jamuran dan bulukan”
Maka inilah postingan saya yang pertama di taon Twenty Ten ini.

Cerita diawali dari target saya yang harus LULUS S2 di taon 2010 ini, nah karena tesis yang saya ambil berhubungan dengan Marketing, maka mulailah saya mengobrak – abrik ulang pemahaman saya tentang marketing, dari mulai eBook, buku segede silangan Gajah dan Gaban, sampe diskusi kesana dan kemari saya jalani semua.

Nah akhirnya saya mendapatkan beberapa ne pemahaman basic tentang marketing yang cukup mencengangkan ( lebay mode ).
Beberapa pemahaman tentang basic marketing yang sering dilupakan dan bahkan dicampur adukan sehingga akhirnya jadi membingungkan dan bias.
Nah ini saya coba berbagi deh , atau setidak – tidak nya kl memang ternyata udah pada banyak yang lebih tau, tulisan ini bisa jadi catatan buat saya sendiri he he he he

Marketing itu beda dengan Selling ( jualan ) dan beda juga dengan Public Relation …
Marketing itu ada jauh sebelum produk diciptakan, atau kalau produknya sudah terlanjur ada, ya tugas marketing untuk memahami kebutuhan dan keinginan dari pembeli, lalu mencari cara supaya produk itu cocok dengan kebutuhan dan keinginan pembeli.

Ternyata kebutuhan dan keinginan itu berbeda ( needs and want ), tugas Marketing adalah mempengaruhi keinginan , lebih hebat lagi kalau bisa menciptakan kebutuhan atau keinginan ….
Tapi biasanya kebutuhan itu ada sebelum proses marketing, jadi belajarlah banyak cara untuk mempengaruhi keinginan supaya anda bisa jadi Marketer handal .

Brand awareness dan brand recognition
Ada penjelasan sederhana nya, kl misalkan konsumen ditanya ne
“Bapak tau kondom ?” dan si bapak menjawab ” Tau mas, DUREX kan”
Nah DUREX sudah mencapai Brand Awareness, tapi kalau misalkan yang kita maksud itu merek SUTRA dan kita harus mengarahkan si bapak
“Itu pak, yang namanya mirip nama jenis kain” dan si bapak bisa menjawab, maka Brand Recognition sudah tercapai ..

Tapi kalau si bapak menjawab ‘ owww SARUNG ya mas , maka semua usaha Branding itu sudahlah pasti GAGAL …

Nah apa yang saya sampaikan diatas semoga bermanfaat bagi teman – teman pengusaha yang mulai membangun proses marketing bagi perusahaan atau produknya.
Buat teman – teman yang sudah membayar kunsultan seharga ratusan juta untuk pencapaian “brand awareness” dan teman – teman itu ndak tau batasannya sampe mana, bahkan mungkin konsultannya gagal menjelaskan.

Semoga tulisan ini bermanfaat

KPK , Polri dan Kejaksaan – catatan dari kasus Bibit dan Chandra

Setelah hingar bingar drama penangkapan Ketua KPK non aktif Bibit – Chandra. Diikuti dengan fenomena dukungan luar biasa dari sejumlah tokoh , Facebook dandilanjutkan dengan drama pemutaran rekaman penyadapan Anggodo di Mahkamah Konstitusional.

Benar – benar merupakan salah satu nikmatnya hidup di Indonesia, realityshow nya mantap – mantap, dan hiburan heboh drama manusia, tersedia gratis setiap saat.

Sore hari selepas jam 6 sore – WIB, sesampai lagi di kantor saya menyalakan TV dan meyaksikan drama berikutnya di TV One, Si Anggodo sang bintang hari itu hadir memberikan counter – kali ini saya cukup terkejut, karena punya nyali juga orang ini.
Adegan berikutnya munculah sang pengacara dari KPK , dan tiba – tiba saja entah kenapa simpati saya terhadap Bibit dan Chandra menjadi berkurang karena arogansi yang dipertontonkan oleh pengacaranya.
Posisi di atas angin sore itu dalam sekejap telah merubah perilaku pengacara KPK – Chandra M Hamzah menjadi mulai terlihat seperti para Jaksa dan aparat Kepolisian yang dituduhnya arogan dan sewenang – wenang, dengan senyum yang terlihat meremehkan dan berbicara tanpa mau memberikan kesempatan pada orang lain.
Entah kenapa tiba – tiba saya merasa begitu cepat sebuah arogansi baru dipertontonkan.

Pagi ini, semua berita , posting di Facebook, BLOGsphare dan Twitter, masih meneriakan kemenangan yang sama atas penangguhan penahanan Bibit dan Chandra, dan masih memaki Polri, Kejaksaan dan tentunya si Anggodo yang sedang berada pada titik nadirnya.

Saya berpikir, apakah saya yang aneh, apakah hanya saya yang merasakan keangkuhan sekejap para Pengacara Bibit – Chandra, dan apakah memang benar Bibit – Chandra tersebut 100% orang bersih ?

Betapa cepatnya reaksi sesaat orang – orang di sekitar saya.

Saya hanya berpikir, Polri , Kejaksaan dan KPK adalah satu kesatuan yang seharusnya memiliki tujuan sama.
Apajadinya bila setelah ini KPK lupa diri dan bermain gila dengan kekuasaannya?
Menyadap siapapun yang dianggap ancaman, lalu menggunakan rekaman penyadapan tersebut sebagai alat atau senjata demi kepentingan pribadi.
Apa jaminannya itu tidak akan terjadi ?

Alih – alih membuat sebuah mekanisme untuk mencegah inbalance antara ke 3 institusi ini terjadi, masyarakat, media , sebagian besar terhanyut menjadi penggembira, meneriakan yel – yel bagi para pemenang dan mencaci pihak yang dianggap zalim dalam DRAMA SESAAT BIBIT – CHANDRA .

Pertanyaan saya masih berlanjut sampai siang ini, kalau sudah ditangguhkan penahanannya , lalu apa?

Pembelajaran bisnis dari Microsoft yang selalu “terlambat”

Pada rutinitas pagi sebelum ngantor dan setelah “nongkrong” , saya menjelajah tumpukan berita “on line” yang saya kelola lewat RSS di portable Mac saya ….

Berita yang cukup menarik adalah Microsoft akhirnya mengumumkan “counter” nya terhadap Google yang beberapa minggu lalu menghangatkan persaingan dengan mengumumkan pengembangan dari Chrome Operating System …
Intinya adalah satu lagi serangan langsung ke bisnis inti dari Microsoft yaitu Windows Operating system beserta dengan perangkat aplikasi kantor nya ( Word, Excel, Outlook, dkk )

Bahan yang menarik adalah usaha “counter” dari Microsoft tersebut berupa serangkaian “Suport” untuk produk Office nya, yang kini dibawa online atau berbasis web …

Gampangnya mereka menawarkan :

– Document yang bisa diakses dari dan dimana saja selama ada koneksi ke internet.
– Ada fitur “kolaborasi” yang memungkinkan document bisa diedit bersama .
– Document bisa diakses dari perangkat mobille macem smartphone , laptop, atau netbook.

dan masih seperti biasa, sesuatu yang “khas” Microsoft masih muncul dibelakangnya : berbagai macam struktur harga yang membingungkan untuk berbagai macam layanan yang harusnya menjadi usaha “counter” tersebut ..

— Menarik ?? – mungkin , bagi saya semua ini terkesan terlambat dan basi …

Semua fitur tersebut sudah ada pada layanan Google Document sejak beberapa tahun yang lalu, dan GRATIS …

Aplikasi kantor besutan Apple – iWork pun sudah menawarkan hal yang sama sejak 2008 dengan harga yang lebih murah dari Microsoft Office – hanya separuh nya – dengan kualitas yang sedikit lebih baik ..

Bahkan Aplikasi kantor open source seperti Neo Office dan Open Office yang dikembangkan secara swadaya dan benar – benar GRATIS pun sudah memiliki fitur ini dari beberapa tahun yang lalu , 2007 pertengahan kalau saya tidak salah … CMIIW

— Apa yang terjadi ??

Microsoft sebagai sebuah raksasa di bidang teknologi , yang pernah dan saya yakin masih menguasai pasar , menjadi terkesan sangat lambat ….
Lambat dalam berinovasi, lambat dalam membaca dan merespon perubahan , kebutuhan serta perkembangan pasar, dan terkesan semakin tidak jelas mau kemana arah bisnis dan pengembangan produk mereka ..
( dalam hal ini maksud saya pada produk OS Windows dan Aplikasi Office )

Apakah benar bila diumpamakan sebagai individu, Microsoft sudah mulai tua, orang tua dengan keberhasilan yang spektakuler dan dana yang berlimpah ….
Gendut dan tidak lincah karena terlalu nyaman dengan kesuksesannya …

— Pembelajaran bisnis apakah yang bisa kita dapatkan?

Pada era dimana batas – batas semakin menipis, Bisnis Unit dituntut untuk selalu kreatif, peka dan responsif terhadap perubahan dan kebutuhan pasar .
Unit Bisnis atau perusahaan dituntut untuk semakin memperhatikan aspek KREATIVITAS dan INOVASI, tidak melulu hanya pada produk, tapi lebih secara keseluruhan baik pada sisi manajerial, proses produksi, marketing, distribusi … semuanya …

INOVASI harus segera dimunculkan, dan dikelola bila sebuah perusahaan tetap mau bertahan dalam kondisi persaingan dengan batasan yang semakin kabur seperti saat ini …

INOVASI harus segera menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari EFEKTIFITAS dan EFISIENSI.

Kekuatan Modal sudah terbukti bukan lagi menjadi faktor utama, networking pun demikian INOVASI yang mendorong Responsivitas terhadap perubahan menjadi penting juga untuk diperhatikan …

Saya teringat sebuah cerita tentang penjual mie ayam dan web designer

Ada seorang penjual Mie Ayam yang sudah sangat terkenal di Jogja, sebut saja Mie Ayam Pak Tapir, konsumennya sangat banyak, sebagian bahkan ada yang termasuk kategori die hard fans, lalu ada seorang pelanggan Mie Ayam Pak Tapir, sebut saja namanya Meol , dia penggemar berat mie ayam dan ayam – ayam yang lain, dia berprofesi sebagai web designer dan web developer, internet base lah kerjaan nya..

Suatu hari si Meol yang gemar berpetualang ini menemukan ada mie ayam di daerah Bantul, daerah pinggiran kota Jogja, ternyata lebih enak dari Mie Ayam Pak Tapir, tetapi belum ter ekspose dan terkelola dengan baik …
Lalu si Meol menawarkan kerjasama dengan menjadi pemodal untuk Mie Ayam Bantul ini, oleh Meol dipasarkan Mie Ayam Bantul ini lewat Situs Web Kuliner yang dibangunnya, di garap promosinya dan ….

JRENGGG …. Mie Ayam Bantul kampung itu berubah drastis “Go” internasional karena pemasaran berbasis web …
Pasar yang Pak Tapir ndak akan pernah bisa jangkau dengan managementnya …
Pak Tapir masih belum sadar dan bahkan wangsitpun belum dapat tentang ancaman ini …
Perlahan beberapa pelanggan Pak Tapir pun mulai ada yang membaca Situs Web Kuliner milik Meol dan mencoba Mie Ayam Bantul … dan memang lebih enak dari Mie Ayam Pak Tapir …

Perlahan Mie Ayam Pak Tapir mulai menurun dan kehilangan pelanggan, tanpa Pak Tapir penah tau bahwa semua berawal dari seorang Web Developer yang ironisnya justru pelanggannya sendiri …

Nilai Moralnya :

– Penjual mie ayam dan web designer …. hmm sekarangpun bisa menjadi rival bisnis …
– Bahkan pelanggan kita sendiri bisa menjadi peluru kematian kita ….
– Sekuat apapun modal dan brand merek “Pak Tapir” kalau dia tidak berinovasi, dalam hitungan bulan, usaha puluhan tahun yang dia bangun akan sia – sia …

Jadi akankah kita tetap enggan berinovasi ??
Masih sombong dan percaya dengan kekuatan modal, relasi, jaringan , atau bahkan warisan ??

Pada tulisan berikutnya akan saya bahas bagaimana mengelola inovasi di dalam perusahaan .

Manohara dan ibu Prita

Apa karena kebanyakan sinetron, hingga akhirnya jadi bingung mana berita beneran dan mana sinetron dalam format berita.

Dulu waktu saya kecil, saya sangat – sangat yakin bahwa yang namanya Jagoan ntu pasti menang akhirnya, liat pelem – pelem silat dan horor Indonesa dulu kl, jagoan udah kepepet pasti keluar polisi dengan seragam membantu, ya kadang minimal Hansip juga udah cukup lumayan.

Sekarang kesannya kok justru Polisi , Hansip, Satpol PP ntu malah jadi penjahatnya yah ?

dan balik lagi ke masalah Manohara sama Ibu Prita, mbok ya si Mano istirahat dulu, visum dulu apa kangen – kangenan dulu sama keluarganya … Ini malah sibuk road show crita sana dan sini.

Lalu buat ibu Prita, hmmm … turut berbahagia bu , sudah mendapatkan penangguhan penahanan. Semoga bisa lebih tenang dan taktis dalam menyusun strategi perlawanan berikutnya …

Tapi entah kenapa, semua seperti sinetron yahh

My Baby Business …

Seorang guru pernah berkata , membangun sebuah bisnis itu ibaratnya menjaga seorang bayi …

– Baru bisa dilepas stabil sampai dengan umur 5 tahun.
– Harus dijaga, diawasi, dicukupi kebutuhan dan keperluan nya
– Rapuh, rentan terhadap serangan penyakit
– Semua harus segera cepat dan responsif …

Seorang pecinta alam juga pernah membawa hikmah, bahwa membangun sebuah bisnis itu ibarat membuat sebuah api unggun ..

– Bila sudah mulai besar, jangan langsung ditinggal ..
– Dijaga dari terpaan angin dan hujan biar ndak mati

Dari saya sendiri , membangun sebuah bisnis itu ibarat perjuangan di kakus
– Butuh angan
– Butuh ketekunan
– Butuh kesabaran
– Butuh imajinasi
– Butuh “ngeden” –> bahasa Indonesia nya apa yah ??
– Butuh “ngempet’ –> menahan napsu kali ya ??
– Butuh rokok dan blackberry ….

Yah begitulah perspektif kita masing – masing dalam mengembangkan bisnis …
Ada yang mau sumbang saran ??

Little Promo :
buat yang tertarik melihat baby saya … bisa di klik di www.dssync.com

 

Wuuuhhh nampanya sudah terbengkalai sekali BLOG ini, semua orang teralih bermain di Micro BLOGing  macem Twiter , Plurk ataupun Facebok yang menawarkan fasilitas all in one ….Tapi apakah benar begitu ???

Hmmm jujur saja, saya tidak tau … Saya sendiri lebih asik bermain – main dengan Facebook yang serasa lebih simple dan enak …. Sehingga akhirnya sangat malas mengunjungi dan merawat BLOG ini…

Okew … Mari mencoba menulis lagi ahhh  dan entah kenapa waktu baca beberapa tulisan terakhir yang kembar dengan di Facebook … rasanya mau Hoeekkk …

Serius buanget … males ah Yudha “nggak seserius itu …

Basic Marketing untuk Small Business

Haluw, weekend ini saya coba manfaatkan untuk menulis sesuatu yang memang menjadi satelite di seputar hidup saya, atau di core competencies yang saya punya di bidang IT – Apple – Marketing and Blues he he he …

Saat ini saya berada pada fase untuk membangun kembali sebuah Bisnis Kecil yang saya cita – citakan akan menjadi besar kembali. Salah satu sisi yang cukup penting dan menjadi perhatian adalah sisi marketing – pemasaran, dan kebetulan saya juga sedang belajar Marketing di MM UGM
Karena bisnis yang sedang saya rintis ini dapat dikategorikan sebagai Bisnis Kecil – Small Busines, maka sudah tentu strategi marketing yang harus saya terapkan adalah strategi yang memang diperuntukan bagi SmallBizz.

Setalah browsing ke banyak tempat, dan membuka catatan – catatan kuliah saya, akhir nya saya memperoleh berbagai bahan yang bisa menjadi dasar untuk menyusun strategi marketing yang akan saya gunakan untuk bisnis kecil yang sedang saya bangun …
Nah disini saya akan coba berbagi,

Inti dari marketing sebenarnya adalah
“bagaimana memahami kebutuhan konsumen atau pasar, dan membangun sebuah rencana seputar pemenhan terhadap kebutuhan tersebut” – ringkasan dari berbagi sumber dan pengalaman.

Bagi bisnis kecil, impiannya adalah menjadi besar dan cara yang paling efektif untuk menjadi besar adalah dengan berfokus pada apa yang disebut sebagai “organic growth” – pertumbuhan yang dicapai dengan berfokus pada peningkatan produksi dan penjualan.

Ada beberapa cara yang bisa ditempuh :
1. mendapatkan lebih banyak konsumen
2. mengejar setiap konsumen untuk membeli lebih banyakproduk
3. mengejar konsumen untuk membeli produk yang lebih mahal lagi
4. mengejar konsumen untuk membeli produk yang lebih profitable

Semuanya akan meningkatkan pendapatan dan keuntungan kita, tetapi akan lebih baik bila kita fokus pada pilihan pertama, karena dengan menambahkan jumlah konsumen ataupun calon konsumen, kita meningkatkan customer “base” kita dan secara otomatis pula keuntungan / profit akan datang dari “base” yang lebih besar.

Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah :
“Bagaimana kita menggunakan marketing untuk mendapatkan lebih banyak client atau pelanggan?”

Kita bisa melakukan :
1. research sederhana dan menciptakan rencana marketing yg strategis
2. memperkenalkan produk kita sampai pada konsumen yg sebelumnya tidak menarik untuk kita
3. memberikan harga yang kompetitif pada produk dan service yg kita berikan
4. fokus pada solution marketing ( pemberian solusi ) bukan pada hard selling

Selanjutnya penentuan Target Pasar yang pas untuk Bisnis Kecil :

pilihlah pasar yang memang benar – benar potensial dan mampu kita layani,
ex.
saat ini kapasitas saya untuk memberikan pelayanan jual dan purna jual yang baik, pada sekolah dengan kapasitas pemesanan 10 unit per bulan. Jangan kita memaksakan mengejar pasar dengan kapasitas 500 unit per bulan, kecuali bila memang kita benar – benar yakin dan mampu untuk menangani pasar tersebut.
Dampak bila kita memaksakan, pelayanan yang akan kita berikan akan berkurang kualitasnya dan untuk jangka panjang ini tidak akan baik.
Jangan serakah dan berpikirlah jangka panjang, ini inti dari pemanfaatan sebuah strategi.
Perlu dipikirakan juga untuk mengutamakan pasar yang mampu meberikan hasil atau pemesanan yang berkesinambungan.

Hal yang sangat penting berikutnya adalah masalah dana – budget marketing:

Small business sangat berbeda dengan Big Business, budget marketing dari small business kadang sangat kecil atau bahkan tidak ada … Tapi bukan berarti bahwa tidak bisa sama sekali melakukan marketing … Lalu bagimana ? Apa yang harus dilakukan

Kunci utamanya terletak bukan pada “seberapa besar dana – budget yang disediakan, tetapi lebih kepada seberapa efektif kita memanfaatkan budget atau peluang yang ada untuk memasarkan atau melakukan kegiatan marketing”

1. kita bisa melakukan proses marketing bersamaan dengan proses penjualan.
2. banyak media Gratis yang bisa kita gunakan untuk marketing, Facebook misalnya
3. berikan palayanan maksimal kepada setiap client, konsumen yang puas akan menjadi marketer kita
4. mulai memandang bahwa konsumen bukan hanya sebagi sumber profit, tetapi alat marketing juga

Nah bila kita sudah memahami dasar – dasarnya, saya rasa akan cukup mudah untuk melangkah.
Tulisan ini juga bisa menjadi marketing untuk saya pribadi misalnya … he he he …

Mari kita berkembang dan maju bersama, bila tertarik mari kita berdiskusi,
feel free untuk menghubingi saya via email di

Yudhaworld@gmail.com
Ym – Yudhaworld@yahoo.com
Semoga tulisan ini membawa pencerahan.

Next saya akan mencoba menyelesaikan TESIS saya yang terbengkalai … ha ha ha dan menulis hubungan antara Marketing – Apple – IT dan Blues Music.

Salam.

Belajar dari Google . . .

Baru – baru ini sebuah artikel menarik diterbitkan Businessweek. Artikel itu membahas , dan membuat semacam review terhadap sebuah bukku berjudul “What Would Google Do ?” yang saat ini cukup laris manis terjual dan menjadi best seller.
Pada intinya adalah buku tersebut mengulas , strategi – strategi apakah yang digunakan oleh Google, yang bisa dipelajari dan bisa dicoba diimplementasikan pada industri – industri lain, sebagai sebuah cara untuk meningkatkan daya tahan menghadapi krisis yang melanda saat ini – dalam tulisan ini digunakan industri otomotif America yang saat ini menerima pukulan paling berat dari krisis sebagi contoh case nya.
Dari ulasan yang cukup panjang tersebut ada beberapa point yang cukup menarik yang saya coba rangkum, dimana menurut pendapat saya point – point tersebut cukup universal dan bisa diterapkan dalam banyak jenis industri dan bisnis, bahkan tidak menutup kemungkinan dalam pengembangan pribadi kita. Oke, kita mulai saja.

MANAGE ABUNDANCE, NOT SCARCITY
Businesses like airlines and Broadway theaters profit from controlling the scarcity of their product. But the Internet kills scarcity. Google understands how to benefit from abundance. The more content for it to organize and the more sites where it can place ads, the better. Amazon has a similar approach, offering customers more books and CDs than could ever fit in one physical store.
Cukup menarik, intinya adalah bagaimana kita bisa semakin memperkaya content atau “kandungan” dalam bisnis kita. Ex. Sebuah toko komputer, mereka dapat terus menambahkan katalog produk yang mereka miliki, bila sebelumnya hanya 5 merek, bisa ditambahkan menjadi 10 merek , sebelumnya hanya 2 jenis layanan bisa ditambahkan menjadi 5 jenis layanan. Sebagai individu kita juga dapat memperkaya content atau kandungan nilai yang kita kuasai. Tidak hanya seorang sarjana yang paham seluk beluk marketing, wawasan yang luas, menguasai berbagai macam bahasa, komputer basic, yang temtunya semua masih berhubungan dengan keahlian utama. Akan tetapi yang terpenting adalah untuk tetep memperkuat core competencies yang telah dimiliki dan fokus pada tujuan. Karena jangan sampai proses pengayaan ini justru membuat bias. Penting dan wajib pula proses “pengayaan” ini tetap sejalur dengan core competance yang dimiliki. Google tetap konsisten memberikan layanan semakin baik pada core bisnisnya “search engine”, disamping terus menambahkan kelebihan – kelebihan yang lain untuk memperkuat core competance nya, seperti Chrome Brwoser, Google Docs, dsb yang semua masih terhubung dengan core competance dari Google itu sendiri.

MAKE MISTAKES WELL
Mistakes can be valuable, if you can learn from them. Google releases most products in “beta,” meaning they’re not quite finished. Then it incorporates feedback to come up with improvements. Procter & Gamble CEO A.G. Lafley says he wants to keep the company’s rate of failure with new product launches at about 40% to 50%. He thinks it encourages employees to think ambitiously and take risks.
Belajar dari kesalahan. “Kesalahan adalah guru yang terbaik”. Selanjutnya adalah bagaimana kita mengelola resiko yang timbul akibat kesalahan tersebut, disitulah kunci utamanya. Wright bersaudara – penemu pesawat terbang, tau bahwa mereka melakukan percobaan untuk belajar dari kesalahan dengan resiko yang sangat tinggi, mereka berusaha mengelola resiko seminimal mungkin, dengan melakukan percobaan penerbangan di tanah yang lunak , berumput, serta datar, sehingga bila jatuh dapat mengurangi resiko yang ada. Demikian juga dalam berbisnis, ada baiknya untuk selalu mengembangkan diri dan belajar dari kesalahan yang ada. Jangan takut untuk salah.

GIVE UP CONTROL
Companies need to give up control to outsiders to reap the benefits of their input. Google does this through beta launches and other user feedback. Dell tried a similar tack in 2007, after a flood of criticism over poor customer service. CEO Michael Dell launched a Web site to get customers’ ideas, and Dell executives reached out online to bloggers. The openness led to a customer service overhaul; the negative buzz declined.
Berbagilah kontrol terhadat orang luar, terutama konsumen. Merekalah yang sebenarnya paling tau apa produk seperti apa yang diinginkan dari perusahaan, bukan team R&D perusahaan. Tugas R&D adalah membuat perusahaan mampu mewujudkan keinginan konsumen dan menentukan langkah untuk mengambil profit dari kepuasan konsumen. Sama hal nya dengan individu, cobalah untuk menghargai kontrol dari luar, jangan terlalu egois dan individu, karena kadang kita sendiri tidak tau apa yang terbaik untuk kita.

GET OUT OF THE WAY
Google doesn’t tell people how to use its search engine or what to look for. It lets people take control of its technology. Craig Newmark, founder of Craigslist, has done similar things with his Web site. He lets people use the classifieds service in any way they can imagine. Many service providers—in telecom, cable, media, education—could do well to make something useful and then get out of the way

Biarlah konsumen yang menentukan akan dipakai menjadi apakah produk kita. Bukan kita lagi yang harus membantu konsumen untuk menggunakan produk. Apple tidak akan pernah membayangkan bahwa aplikasi yang muncul dengan menggunakan teknologi acelerometer di iPHONE akan menjadi seperti sekarang. Biarlah konsumen yang berkarya, dan jangan lupa, bagilah keuntungan dengan mereka yang telah menyumbangkan ide dan karyanya, karena apapun yang terjadi hubungan saling menguntungkan akan bertahan baik dan lama. Jangan terlalu mendikte bagaimana orang harus memperlakukan, atau bersikap terhadap kita. Cobalah memahami dan mengerti apa yang mereka mau terhadap kita, selanjutnya akan muncul ide – ide yang kadang belum pernah kita pikirkan sama sekali.

LOW PRICES ARE GOOD (FREE IS BETTER)
Google doesn’t charge people to use its search engine. In fact, the fastest-growing Net companies—from Google and Skype to Amazon and eBay—don’t charge what the market will bear. They charge as little as they can bear. With networks of people, the more users you get, the stronger your competitive position. Scale can trump short-term profits.
Berikanlah harga yang terbaik, bukan berati menjual diri. Membahagiakan konsumen dengan harga yang pantas dan murah, tanpa mengorbankan kualitas. Konsumen yang puas akan menjadi loyal konsumen dan akan menjadi papan iklan berjalan. Berpikir untuk keuntungan jangka panjang. Perhitungan mutlak ala Paman Gober dan Hagemaru yang semuanya berbasis pada Cost dan Benefit, saat ini sudah tidak terlalu relevant. Semakin banyak kita memberi, akan semakin banyak kita mendapatkan. Semakin kita berhitung, maka kita akan semakin dihitung.

DON’T BE EVIL
Google’s most famous rule may seem the height of hubris. But founders Larry Page and Sergey Brin say the rule really exists to allow employees to challenge managers on decisions to make sure they are true to the company’s mission. It provides a simple guiding principle for everyone. If only that rule had been etched over every door on Wall Street, perhaps the U.S. wouldn’t be in the mess it’s in now.
Inilah yang paling saya suka dari Google, semboyan ini jauh lebih saya suka dibandingkan Think Different nya Apple. Tantangan terbesar di Indonesia saat ini adalah , semua perusahaan semain mengarah untuk menjadi “All Evil”, dan statistik serta sejarah telah memuktikan bahwa dalam jangka panjang ini tidak baik.

Okew sekian dulu tulisan kali ini, ditulis siang hari sambil memikirkan menu apa yah untuk makan siang kali ini .. Ada ide ?

Tulisan serupa dapat dilihat juga di BLOG saya di www.Yudhaworld.Wordpres.com

Rahasia Dapur Apple inc.

Barangkali banyak dari kita bertanya – tanya , “value” apa yang dianut oleh Apple Inc. – sebagai salah satu leading company di bidang industri teknologi, yang juga mampu bertahan di tengah tengah krisis finansial global yang terjadi saat ini.

Berikut adalah petikan translate dari “earning conference call” yang dilakukan oleh Tim Cook – Chief Operating Officer – Apple Inc. yang saat ini menggantikan posisi Steve Jobs , karena Om Steve sedang dalam “masa pengobatan” sampai bulan Juni 2009 mendatang.

There is an extraordinary breadth and depth and tenure among the Apple executive team, and these executives lead over 35,000 employees that I would call “all wicked smart”. And that’s in all areas of the company, from engineering to marketing to operations and sales and all the rest.
And the values of our company are extremely well entrenched.

We believe that we’re on the face of the Earth to make great products, and that’s not changing.

We’re constantly focusing on innovating.

We believe in the simple, not the complex.

We believe that we need to own and control the primary technologies behind the products we make, and participate only in markets where we can make a significant contribution.

We believe in saying no to thousands of projects so that we can really focus on the few that are truly important and meaningful to us.

We believe in deep collaboration and cross-pollination of our groups, which allow us to innovate in a way that others cannot.

And frankly, we don’t settle for anything less than excellence in every group in the company, and we have the self-honesty to admit when we’re wrong and the courage to change. And I think, regardless of who is in what job, those values are so embedded in this company that Apple will do extremely well.

Dari kutipan diatas ada beberapa kata kunci yang bisa disarikan :
1. great product
2. simple not complex
3. need, own and control primary tech behind the product
4. saying no to thousands of projects so that we can really focus on the few
5. deep collaboration and cross-pollination of our groups
6. focusing on innovating

G r e a t …

Demikian value yang dianut oleh Apple Inc. sampai sejauh ini.
Value ini terbukti sudah berhasil untuk jangka panjang, semoga bisa bermanfaat….

Tulisan ini juga dapat dilihat di FaceBook saya , @ YudhaWorld@yahoo.com …. yuuk mari ….