Belajar dari Google . . .

Baru – baru ini sebuah artikel menarik diterbitkan Businessweek. Artikel itu membahas , dan membuat semacam review terhadap sebuah bukku berjudul “What Would Google Do ?” yang saat ini cukup laris manis terjual dan menjadi best seller.
Pada intinya adalah buku tersebut mengulas , strategi – strategi apakah yang digunakan oleh Google, yang bisa dipelajari dan bisa dicoba diimplementasikan pada industri – industri lain, sebagai sebuah cara untuk meningkatkan daya tahan menghadapi krisis yang melanda saat ini – dalam tulisan ini digunakan industri otomotif America yang saat ini menerima pukulan paling berat dari krisis sebagi contoh case nya.
Dari ulasan yang cukup panjang tersebut ada beberapa point yang cukup menarik yang saya coba rangkum, dimana menurut pendapat saya point – point tersebut cukup universal dan bisa diterapkan dalam banyak jenis industri dan bisnis, bahkan tidak menutup kemungkinan dalam pengembangan pribadi kita. Oke, kita mulai saja.

MANAGE ABUNDANCE, NOT SCARCITY
Businesses like airlines and Broadway theaters profit from controlling the scarcity of their product. But the Internet kills scarcity. Google understands how to benefit from abundance. The more content for it to organize and the more sites where it can place ads, the better. Amazon has a similar approach, offering customers more books and CDs than could ever fit in one physical store.
Cukup menarik, intinya adalah bagaimana kita bisa semakin memperkaya content atau “kandungan” dalam bisnis kita. Ex. Sebuah toko komputer, mereka dapat terus menambahkan katalog produk yang mereka miliki, bila sebelumnya hanya 5 merek, bisa ditambahkan menjadi 10 merek , sebelumnya hanya 2 jenis layanan bisa ditambahkan menjadi 5 jenis layanan. Sebagai individu kita juga dapat memperkaya content atau kandungan nilai yang kita kuasai. Tidak hanya seorang sarjana yang paham seluk beluk marketing, wawasan yang luas, menguasai berbagai macam bahasa, komputer basic, yang temtunya semua masih berhubungan dengan keahlian utama. Akan tetapi yang terpenting adalah untuk tetep memperkuat core competencies yang telah dimiliki dan fokus pada tujuan. Karena jangan sampai proses pengayaan ini justru membuat bias. Penting dan wajib pula proses “pengayaan” ini tetap sejalur dengan core competance yang dimiliki. Google tetap konsisten memberikan layanan semakin baik pada core bisnisnya “search engine”, disamping terus menambahkan kelebihan – kelebihan yang lain untuk memperkuat core competance nya, seperti Chrome Brwoser, Google Docs, dsb yang semua masih terhubung dengan core competance dari Google itu sendiri.

MAKE MISTAKES WELL
Mistakes can be valuable, if you can learn from them. Google releases most products in “beta,” meaning they’re not quite finished. Then it incorporates feedback to come up with improvements. Procter & Gamble CEO A.G. Lafley says he wants to keep the company’s rate of failure with new product launches at about 40% to 50%. He thinks it encourages employees to think ambitiously and take risks.
Belajar dari kesalahan. “Kesalahan adalah guru yang terbaik”. Selanjutnya adalah bagaimana kita mengelola resiko yang timbul akibat kesalahan tersebut, disitulah kunci utamanya. Wright bersaudara – penemu pesawat terbang, tau bahwa mereka melakukan percobaan untuk belajar dari kesalahan dengan resiko yang sangat tinggi, mereka berusaha mengelola resiko seminimal mungkin, dengan melakukan percobaan penerbangan di tanah yang lunak , berumput, serta datar, sehingga bila jatuh dapat mengurangi resiko yang ada. Demikian juga dalam berbisnis, ada baiknya untuk selalu mengembangkan diri dan belajar dari kesalahan yang ada. Jangan takut untuk salah.

GIVE UP CONTROL
Companies need to give up control to outsiders to reap the benefits of their input. Google does this through beta launches and other user feedback. Dell tried a similar tack in 2007, after a flood of criticism over poor customer service. CEO Michael Dell launched a Web site to get customers’ ideas, and Dell executives reached out online to bloggers. The openness led to a customer service overhaul; the negative buzz declined.
Berbagilah kontrol terhadat orang luar, terutama konsumen. Merekalah yang sebenarnya paling tau apa produk seperti apa yang diinginkan dari perusahaan, bukan team R&D perusahaan. Tugas R&D adalah membuat perusahaan mampu mewujudkan keinginan konsumen dan menentukan langkah untuk mengambil profit dari kepuasan konsumen. Sama hal nya dengan individu, cobalah untuk menghargai kontrol dari luar, jangan terlalu egois dan individu, karena kadang kita sendiri tidak tau apa yang terbaik untuk kita.

GET OUT OF THE WAY
Google doesn’t tell people how to use its search engine or what to look for. It lets people take control of its technology. Craig Newmark, founder of Craigslist, has done similar things with his Web site. He lets people use the classifieds service in any way they can imagine. Many service providers—in telecom, cable, media, education—could do well to make something useful and then get out of the way

Biarlah konsumen yang menentukan akan dipakai menjadi apakah produk kita. Bukan kita lagi yang harus membantu konsumen untuk menggunakan produk. Apple tidak akan pernah membayangkan bahwa aplikasi yang muncul dengan menggunakan teknologi acelerometer di iPHONE akan menjadi seperti sekarang. Biarlah konsumen yang berkarya, dan jangan lupa, bagilah keuntungan dengan mereka yang telah menyumbangkan ide dan karyanya, karena apapun yang terjadi hubungan saling menguntungkan akan bertahan baik dan lama. Jangan terlalu mendikte bagaimana orang harus memperlakukan, atau bersikap terhadap kita. Cobalah memahami dan mengerti apa yang mereka mau terhadap kita, selanjutnya akan muncul ide – ide yang kadang belum pernah kita pikirkan sama sekali.

LOW PRICES ARE GOOD (FREE IS BETTER)
Google doesn’t charge people to use its search engine. In fact, the fastest-growing Net companies—from Google and Skype to Amazon and eBay—don’t charge what the market will bear. They charge as little as they can bear. With networks of people, the more users you get, the stronger your competitive position. Scale can trump short-term profits.
Berikanlah harga yang terbaik, bukan berati menjual diri. Membahagiakan konsumen dengan harga yang pantas dan murah, tanpa mengorbankan kualitas. Konsumen yang puas akan menjadi loyal konsumen dan akan menjadi papan iklan berjalan. Berpikir untuk keuntungan jangka panjang. Perhitungan mutlak ala Paman Gober dan Hagemaru yang semuanya berbasis pada Cost dan Benefit, saat ini sudah tidak terlalu relevant. Semakin banyak kita memberi, akan semakin banyak kita mendapatkan. Semakin kita berhitung, maka kita akan semakin dihitung.

DON’T BE EVIL
Google’s most famous rule may seem the height of hubris. But founders Larry Page and Sergey Brin say the rule really exists to allow employees to challenge managers on decisions to make sure they are true to the company’s mission. It provides a simple guiding principle for everyone. If only that rule had been etched over every door on Wall Street, perhaps the U.S. wouldn’t be in the mess it’s in now.
Inilah yang paling saya suka dari Google, semboyan ini jauh lebih saya suka dibandingkan Think Different nya Apple. Tantangan terbesar di Indonesia saat ini adalah , semua perusahaan semain mengarah untuk menjadi “All Evil”, dan statistik serta sejarah telah memuktikan bahwa dalam jangka panjang ini tidak baik.

Okew sekian dulu tulisan kali ini, ditulis siang hari sambil memikirkan menu apa yah untuk makan siang kali ini .. Ada ide ?

Tulisan serupa dapat dilihat juga di BLOG saya di www.Yudhaworld.Wordpres.com

One thought on “Belajar dari Google . . .

  1. Huehehe mantap gan tulisannya…cuman aku belum jelas masalah prinsip Google yang “don’ t be evil”. Maksudnya gimana gan? Merugikan konsumen untuk mengejar keuntungan jangka pendek? Pls penjelasannya gan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *